Bismilah. Alhamdulillah bisa ngelanjutin. Oh iya, mengingatkan saja. Ini bukan refleksi program secara keseluruhan, melainkan hanyalah apa yang aku rasakan di sana yang sekiranya bisa memotivasi diri kita untuk mengambil nilai positif dari mereka.
Setelah disiplin dan apresiatif, poin kali ini The Last but not Least is kepedulian. Ya, mereka begitu peduli. Peduli kepada diri mereka sendiri, anak cucu mereka dengan cara yang super, peduli kepada lingkungan. Ini adalah hasil kesimpulanku sendiri. merka tak pernah bilang demikian. Dari yang aku amati, di Jepang, dia sangat terkenal. Wuaaa #Koaranomachi #abaikan. Di Jepang, mereka benar2 sadar untuk tidak menggunakan kantong plastik untuk belanja. Mereka membawa tas sendiri dari rumah untuk belanja ketimbang memakai tas kresek yang toko sediakan, karena mereka tahu plastik sulit diuraikan oleh tanah.
Bagaimana dengan Indonesia? Kalo pengamatanku ke tetangga2 sih, masih parah. Banyak yang masih pake kresek. Ampuun! Bukan maksudnya ngomongin keburukan kalian. Tapi, dari pada aku bilang Indonesia, malaah bisa dianggep fitnah. kan gak semuanya gitu. Oh iya, ntar malem halal bihalal. Minta maaf sekalian, habis ngrasani kalian di blog, hehe.
Lanjut. Itu baru salah satu contoh yang aku amati. Yang lainnya, apa ya? Oh iya, kecenderungan untuk memakai sepeda dan transportasi umum untuk kemana saja. Ada satu yang bikin aku salut, terutama keluargaku di sana. prinsip mereka, "Kami tidak akan pergi menggunakan mobil pribadi kecuali mobil ini penuh oleh anggota keluarga kami." Subhanallah! Mereka benar2 berpikir maju ke depan, tidak egois. Bapak bilang, "Jika semua orang berpikir begini, maka polusi udara dapat diminimalisir seefektif mungkin." Dan itu benar2 demikian. Jika saja mereka egois untuk kepentingan uang dan waktu mereka, pasti setiap orang Jepang mungkin seperti orang-orang Indonesia yang contohnya dulu adalah aku. Sekarang agak berubah, hehe. "Ngapain naik angkot yang bakal keluar duit lebih banyak dan butuh lebih banyak waktu kalo bisa naik motor?"
Itulah egoisnya aku dulu. Gak mikirin persediaan minyak dunia dan dalam negeri, polusi udara, dan kemacetan. penting cepet dan murah. Alangkah indahnya negeri ini jika setiap orang2 Indonesia bisa berpikir seperti orang2 Jepang yang maju ke depan, peduli dan tidak egois. Minimal, aku harap temen2 dan keluargaku deh, gak dikit2 naik motor atau mobil ke mall, pasar atau tmpat lain. Jika jawaban kalian adalah waktu, maka aku jawab balik dengan budaya!
Tidak sepenuhnya kita harus menyalahkan diri sendiri atas keegoisan diri kita. pemerintah harusnya juga mendukung dengan setidaknya memberi transportasi umum yang layak dan tepat waktu bagi khalayak umum. Tapi, kapan kita maju kalo nunggu pemerintah? ayo mulai dari diri sendiri. Caranya? Kembali ke budaya.
Kebiasaan. Ya, jika kita bisa membiasakan diri dan bangun lebih awal, maka menggunakan public transport bukanlah suatu masalah. Jangan kira hal kecil yang kita lakukan ini gak ada pengaruhnya untuk negeri ini. Berkontribusilah untuk negeri ini walau sekecil apapun dan namamu bahkan tak dikenang orang sebagai orang yang pernah berkontribusi.
Bagaimana dengan diriku sendiri? Sudah mampukah diri ini peduli kepada diri sendiri, keluarga, dan lingkungan? hmm
kalo kamu?
Saturday, September 10, 2011
Monday, June 27, 2011
Refleksi Jenesys 2010 part 2
Woke, lanjut ke point kedua yakni Orang Jepang itu Apresiatif. Ini dia yang juga mulai langka ditemukan di negara kita. Bukan hanya kerja keras dan pengabdian bahkan juga barang pemberian. Terkadang apa yang telah kita lakukan atau berikan tidak dihargai sama sekali walau hanya dengan kata singkat tapi bermakna yakni terima kasih. Atau bahkan kita sendiri juga kurang apresiatif terhadap orang lain?
Di Jepang, dia sangat terkenal. Wuaaa. (Koara no machi) #abaikan. Di Jepang, pengalaman apresiasi yang aku rasakan adalah standing applause dan ungkapan terima kasih atas kontribusiku sekecil apapun. Contohnya, aku dua kali disuruh nyanyiin lagu anak-anak Indonesia di depan anak2 TK dan SD. Simpel kan? Tapi mereka sangat perhatian dan apresiatif dengan apa yang aku lakuin walau yang jelas mereka pasti mbatin, "Mas e nyanyi po nggremeng?" wkwk. (nggremeng=menggumam). Udah suaraku gak bagus, mereka gak mudeng bahasanya, tapi mereka antuasias dan meberi standing applaus usai aku perform. Terharu, hiks.
Bagaimana dengan Indonesia? Perform karawitan yang notabene nguri-uri budayane dhewe (re: melestarikan budaya sendiri) aja kadang gak diapresiasi, apalagi nyanyi lagu topi saya bundar. #eh
Begitu pula dengan pemberian. Walau aku gak pernah ngarepin timbal balik atas apa yang aku beri, tapi hati ini tetaplah seneng ketika yang kita beri mengucapkan terima kasih. Di Indonesia, siapa yang terkenal ya? #abaikan -__-". Di Indonesia, pengalaman paling menyakitkan yang aku alami adalah ketika usai memberi, temanku berkata "Opo iki?" "Ngene thok, aku duwe akeh!" (re: "Apa ini? Gini aja, aku punya banyak") Jleb jleb jleb T.T. ya maaf teman, kalo aku cuman bisa ngasih kayak gitu.
Di Jepang, sekecil apapun, mereka pasti senang nerimanya, entah berapa kali mereka ngucapin ありがとう . super!
Di Jepang, dia sangat terkenal. Wuaaa. (Koara no machi) #abaikan. Di Jepang, pengalaman apresiasi yang aku rasakan adalah standing applause dan ungkapan terima kasih atas kontribusiku sekecil apapun. Contohnya, aku dua kali disuruh nyanyiin lagu anak-anak Indonesia di depan anak2 TK dan SD. Simpel kan? Tapi mereka sangat perhatian dan apresiatif dengan apa yang aku lakuin walau yang jelas mereka pasti mbatin, "Mas e nyanyi po nggremeng?" wkwk. (nggremeng=menggumam). Udah suaraku gak bagus, mereka gak mudeng bahasanya, tapi mereka antuasias dan meberi standing applaus usai aku perform. Terharu, hiks.
Bagaimana dengan Indonesia? Perform karawitan yang notabene nguri-uri budayane dhewe (re: melestarikan budaya sendiri) aja kadang gak diapresiasi, apalagi nyanyi lagu topi saya bundar. #eh
Begitu pula dengan pemberian. Walau aku gak pernah ngarepin timbal balik atas apa yang aku beri, tapi hati ini tetaplah seneng ketika yang kita beri mengucapkan terima kasih. Di Indonesia, siapa yang terkenal ya? #abaikan -__-". Di Indonesia, pengalaman paling menyakitkan yang aku alami adalah ketika usai memberi, temanku berkata "Opo iki?" "Ngene thok, aku duwe akeh!" (re: "Apa ini? Gini aja, aku punya banyak") Jleb jleb jleb T.T. ya maaf teman, kalo aku cuman bisa ngasih kayak gitu.
Di Jepang, sekecil apapun, mereka pasti senang nerimanya, entah berapa kali mereka ngucapin ありがとう . super!
Subscribe to:
Posts (Atom)